menu
Logo Lembur Sawah

Menapak Filosofi Dongdang di Lembur Sawah: Dari Wadah Hasil Bumi hingga Simbol Empat Elemen Kehidupan

calendar_today 26 Agustus 2026
person Andhina Afta Maghrifa dan Ghefira Ananda Mutiara Sinta
Menapak Filosofi Dongdang di Lembur Sawah: Dari Wadah Hasil Bumi  hingga Simbol Empat Elemen Kehidupan

Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus merambah Kota Bogor, Kampung Lembur Sawah masih menjaga satu warisan yang tak lekang oleh waktu, yaitu Tradisi Dongdang, Dongdang lebih dari sekadar tandu pengangkut hasil bumi, Dongdang juga menyimpan filosofi tentang hubungan Manusia, Alam dan Tuhan yang diwariskan lintas generasi. Tradisi yang kini hanya digelar setahun sekali itu menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya.

Sejarah Singkat: Dari Hantaran Pernikahan hingga Ritual Tahunan

k1cX0choLlpvKzxxcLtVkoyosWYS4vcYSgQXJKG1.png

Gambar wawancara Abah Tatang

Tatang (78), sesepuh yang memahami adat pernikahan Sunda, mengenang masa ketika  Dongdang memiliki peran penting dalam prosesi pernikahan. "Dahulu dongdang digunakan untuk  mengantar besan sebagai bagian dari hantaran pengantin. Tapi seiring berkembangnya zaman dan hadirnya kendaraan mobil tradisi tersebut mulai ditinggalkan, jadi tidak pakai dongdang  lagi," tuturnya. Saat ini tradisi Dongdang hanya dilakukan setahun sekali, biasanya pada akhir  tahun atau saat mapag tahun. (Menyambut tahun baru).

68Twv8HjzKHVcVaEzB4XKFfqRWxstrohTo78DDtV.png

Gambar wawancara teh Wati

 Wati (36), warga yang aktif mengikuti pelaksanaan tradisi, menjelaskan. "Awal mula adanya  sejarah dongdang untuk hantaran. Zaman dulu, mau jauh ataupun dekat, tetap menggunakan  dongdang karena lebih mempermudah," ujarnya.

Nama "Dongdang" sendiri bukanlah kata tanpa makna, menurut Tatang, nama Dongdang telah  dikenal sejak zaman leluhur. “Alat ini dibuat dari bambu dan pohon kirai sehingga menjadi salah  satu ciri khas masyarakat Sunda yang masih dipertahankan hingga sekarang. dan menjadi simbol  khas orang Sunda”. jelasnya.

Filosofi Bentuk: Persegi Empat sebagai Cerminan Alam Semesta

sZ8Fj93XW1QOFqK5pVSgf1XBCfx3dgE1G2V0aoo0.png

Gambar Dongdang

Salah satu keunikan Dongdang Terletak pada bentuknya, yang terungkap makna di  balik bentuk fisik Dongdang. Wati memaparkan bahwa ada dua jenis Dongdang yang

digunakan masyarakat Lembur Sawah. "Dongdang memiliki 2 macam bentuk, ada yang  persegi empat dan ada yang bulat. Bedanya, kalau yang bulat biasanya untuk membawa  pabeasan (tempat beras). Sedangkan yang persegi panjang untuk sayur dan buah buahan," jelasnya.

 Namun, Di balik bentuk tersebut, tersimpan makna filosofis yang mendalam. Tatang  menjelaskan bahwa bentuk persegi melambangkan empat unsur kehidupan. "Dongdang  segiempat maknanya kita tumbuh dari 4 elemen bumi, air, angin, dan api. Maknanya  seperti alam, seperti kita juga yang memiliki 4 unsur," tuturnya. Menurutnya, bambu yang  menjadi pikulan Dongdang juga mengandung nilai spiritual. "Tungku nya 3, 4, jadi berdiri  sama dengan 1 yaitu bambu itu pikulannya. Itu seperti shalat," tambahnya, Oleh karena  itu, Dongdang menjadi pengingat agar manusia selalu menjaga keseimbangan dengan alam  sekaligus bersyukur kepada Tuhan.

Isi Dongdang dan Nilai Gotong Royong: Syukur dari Bumi untuk Bumi

76P7BNh59K1fJ2SKLwU71YsijRSLqcPEOYlMsPQ4.png

 Apa yang dibawa dalam Dongdang bukanlah sembarang barang. Berbagai hasil bumi  seperti beras (pambeasan), buah-buahan, sayuran, hingga kue, semuanya diletakkan dalam

keadaan mentah. "Dari alam dipajang di dongdang, masih mentah semua. Dari bumi  kembali untuk kita dan diambil warga (hasil bumi) sesudah acara ritual," jelas Tatang. Hal ini menegaskan prinsip siklus kehidupan manusia mengambil dari alam, dan alam kembali  memberi.

 Wati menegaskan bahwa ritual ini adalah bentuk syukur kepada Tuhan. "Niat kita di  bulan Muharam itu untuk syukuran dan berterima kasih kepada Tuhan, terutama kepada  ibu bumi (tanah)," ujarnya. Nilai gotong royong pun tampak jelas dalam pelaksanaannya.  "Gotong royong untuk membawa dongdang," kata Tatang, menggambarkan bagaimana  warga bahu-membahu mengusung tandu yang sarat muatan

lTLajxA2MqQp1HZgAz4pke2RdoSFz6biDaNtPi5i.png
Gambar Pembuatan Dongdang

Konsep Tri Tangtu (tiga pilar) pun menjadi landasan utama. "Ada 3 unsur, hubungan  antara manusia, alam, dan Tuhannya. Jadi kita tidak bisa lepas dari alam, karena semua yang  bersangkutan dengan kehidupan kita itu bergantung dengan alam. Semua ciptaan Tuhan dan akan  kembali lagi kepada Tuhan," jelasnya Wati. Tatang menambahkan, "Intinya, manusia tidak bisa membuat dongdang tanpa kehendak dari Tuhan. Hanya kekuasaan Allah, manusia bisa bikin  dongdang."

Pandangan Masyarakat dan Pergeseran Zaman: Ketika Tradisi Mulai Tergerus

Tb20qf245Zx9oY4C6vhkSkRll19xEPNotOOQq2hD.png

Gambar hasil bumi Dongdang


 tradisi Dongdang menghadapi tantangan pemahaman tentang Dongdang, terutama di  kalangan generasi muda. Dengan jujur, Teh Wati mengakui keterbatasan pengetahuannya sendiri.  "Sebenarnya belum, untuk teh wati sendiri pun belum terlalu paham, karena dipelajari melalui  obrolan saja, tidak melalui buku," ungkapnya. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan tentang  Dongdang hanya mengandalkan komunikasi lisan antargenerasi, tanpa dokumentasi tertulis yang  baku, sehingga rawan putus.

Meski demikian, Tatang tetap optimistis bahwa generasi muda dapat melestarikan tradisi  ini apabila mau belajar dan menghargai nasihat orang tua. "Penting bagi yang muda mengerti kata kata orang tua. Sejajar sama orang tua pasti bisa, enggak bakal gabisa. Karena Allah tidak bodoh,  maha tahu, maha bisa, maha punya, pasti bisa. Generasi sekarang harus bisa mengikuti kata  orang tua, nyucruk galur mapai tapak (mengikuti jejak langkah leluhur)," pesannya. Ia  mengingatkan pada pepatah Sunda, "Kacang jangan lupa kulitnya. Kita harus kembali ke  habitatnya, ke asal, ke tempat masing-masing." 

Menariknya, bentuk Dongdang pun mengalami perubahan visual seiring modernisasi.  "Tidak ada yang beda, masih sama seperti dulu. Cuma dulu tidak dihias, kalau sekarang dihias. Karena mengikuti zaman canggih," ujar Tatang. Meski demikian, esensi dan isinya tetap  dipertahankan.

Makna Pribadi dan Harapan di Ujung Dongdang

d3eNV4CnsGLsAaEcN7ITyFkWFioclDjy8QXh65v7.png

Gambar pawai obor

Bagi kedua narasumber, mengikuti tradisi Dongdang bukanlah beban, melainkan  kebahagiaan yang tak tergantikan. "Yang dirasakan teh wati saat mengikuti tradisi dongdang  yaitu sangat senang, lebih alami. Senang karena tradisinya tidak hilang, dan anak-anaknya tahu  kalau tradisi dongdang di kampung mereka masih ada. Itu menjadi kesenangan tersendiri untuk  teh wati," tuturnya

Tatang merasakan hal yang serupa. "Perasaan bapak mengikuti tradisi dongdang merasa  nikmat. Biarpun tidak punya harta kekayaan, tetap mensyukuri nikmat Allah," katanya. Ketika ditanya tentang perbedaan dengan desa lain, keduanya sepakat bahwa esensinya sama,  meskipun aturan pelaksanaan bisa berbeda. "Menyesuaikan aturan di setiap daerahnya, terkadang  ada yang sama," ujarnya Tatang.

Di Kampung Lembur Sawah, Dongdang bukan sekadar peninggalan budaya, melainkan  warisan nilai yang terus hidup di tengah masyarakat. pengingat bahwa dari empat elemen alam  kita lahir, melalui gotong royong kita kuat, dan hanya dengan rasa syukur kita bisa bertahan di  tengah arus zaman. Jika tradisi ini hilang, bukan hanya sebuah tandu yang lenyap, melainkan  hilangnya cara pandang hidup yang selaras antara manusia, alam, dan Tuhannya.