(Bogor, 15/06/2026) Tak semua pahlawan budaya berasal dari orang-orang tua yang memegang jabatan sebagai tetua kampung. Sebagian dari mereka justru anak-anak muda yang percaya bahwa identitas sebuah kampung tak boleh hilang ditelan zaman. Keyakinan itulah yang membuat Sedekah Bumi di Lembur Sawah kembali hidup dan terus diwariskan hingga kini.Keterlibatan Pemuda Lembur Sawah dalam Tradisi Sedekah BumiKampung yang terletak di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini masih mempertahankan suasana asri pedesaannya, dengan pohon-pohon bambu rindang yang mengiringi sepanjang jalan seolah menjadi ruang aman untuk menyimpan dan melestarikan sebuah tradisi di tengah laju perkembangan kota yang semakin pesat. Sulit dibayangkan bahwa beberapa tahun lalu, tradisi Sedekah Bumi hampir hanya tersisa sebagai cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut oleh para sesepuh kampung.Di balik kembalinya gaung Sedekah Bumi yang kini dikenal luas, terdapat sosok Siti Nurfazriah (27), atau yang akrab disapa Riri. Riri menjadi salah satu penggerak utama dalam upaya menghidupkan kembali tradisi yang sempat meredup. Berbekal kepedulian terhadap warisan budaya leluhur dan semangat untuk mengenalkan identitas Lembur Sawah kepada generasi muda, Riri bersama pemuda setempat mulai merancang berbagai langkah agar Sedekah Bumi tidak hanya bertahan, tetapi juga kembali menjadi kebanggaan masyarakat.Narasumber 1: Siti Nurfazriah (27)Bagi banyak orang, Sedekah Bumi sempat dianggap “vakum”. Namun, menurut Riri, tradisi ini sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Masyarakat masih melaksanakannya setiap tahun dalam lingkup keluarga dan RT, hanya saja tanpa perayaan besar.Ketika Kampung Wisata Saung Eling mulai dikenal masyarakat luas, Riri melihat peluang untuk mengangkat kembali tradisi leluhur itu ke ruang yang lebih besar, “tentunya karena sekarang kampung kami sudah dikenal oleh masyarakat luas dengan adanya Saung Eling, maka sekalian kami kemas untuk acara Sedekah Bumi ini menjadi suatu event yang lebih menarik lagi.” Jelas Riri.Namun, ia tidak ingin sekadar mengulang tradisi lama. Ia mulai mendatangi para sesepuh kampung, menggali cerita dari kakek dan nenek yang masih mengingat bagaimana Sedekah Bumi dahulu dilaksanakan. Dari cerita-cerita itulah, potongan sejarah yang hampir terlupakan kembali dirangkai menjadi sebuah perayaan budaya yang hidup bukan hanya bagian dari tradisi tahunan, melainkan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda terutama di lingkungan Lembur Sawah karena menurutnya budaya Sedekah Bumi ini masih relevan untuk mereka.“Sebetulnya aku rasa masih relevan ya. Karena kami tidak hanya mengangkat Sedekah Buminya aja, tapi ada tampilan kebudayaan seperti pagelaran seni musik, seni tari, dan ada Festival Jajanan Lembur sebagai pemeriah acara. Jadi generasi muda sekarang pun selain tertarik untuk melihat Festival Jajanan Lembur. Mereka jadi tahu, oh ternyata masih ada ya di Kota Bogor pagelaran Sedekah Bumi seperti ini.” Ujar Riri.Namun, perjalanan Riri dan para pemuda Lembur Sawah dalam membesarkan acara ini tidak selalu mulus. Tahun pertama yaitu 2023, menjadi masa yang paling berat untuk mereka. Menggelar sebuah perayaan budaya membutuhkan tenaga, biaya, dan dukungan masyarakat yang tidak sedikit. Saat itu, banyak warga yang masih asing dengan konsep penyelenggaraan acara besar. Sebagian pemuda masih malu-malu untuk terlibat. Sebagian lainnya belum memahami mengapa mereka harus ikut membantu.Panitia pun berjuang mencari pendanaan ke berbagai instansi dan perusahaan agar kegiatan tetap berjalan tanpa membebani masyarakat. Meski penuh keterbatasan, acara pertama berhasil terlaksana. Keberhasilan kecil itu menjadi titik balik.Perubahan mulai terasa pada tahun berikutnya. Lembur Sawah bekerja sama dengan Universitas Pancasila Program Studi Pariwisata untuk mendampingi pemuda-pemuda desa dalam mengelola sebuah event budaya. Mahasiswa dan warga belajar bersama mengenai manajemen acara, promosi, hingga pengorganisasian panitia. Sedikit demi sedikit, jumlah anak muda yang terlibat bertambah.Jika pada awalnya hanya segelintir orang, pada tahun itu hampir seluruh pemuda dalam satu RW ikut ambil bagian sebagai panitia. Mereka tidak lagi menjadi penonton tradisi. Mereka menjadi pelaku utama. Hasilnya luar biasa. Sedekah Bumi Lembur Sawah berhasil menarik sekitar 2.700 pengunjung dalam satu perayaan. Kampung Lembur Sawah juga mendapatkan penghargaan internasional Cultural Preservation Winner dari Asia Pacific Responsible Event Awards berkat keberhasilannya dalam melestarikan tradisi lokal.Selain bekerja sama dengan akademisi, keberhasilan itu mereka capai juga berkat pemanfaatan peran media sosial. Di era ketika sebagian besar anak muda menghabiskan waktu di layar ponsel, media sosial menjadi senjata penting. Melalui akun Instagram @sidekahbumi.lembursawah dan dukungan berbagai media partner, informasi mengenai Sedekah Bumi menyebar jauh melampaui batas kampung.Anak-anak muda dari berbagai daerah mulai mengenal tradisi yang sebelumnya hanya diketahui warga sekitar. Bagi Riri dan timnya, media sosial bukan ancaman bagi budaya. Justru sebaliknya. Media sosial menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi lama dengan generasi baru, “mungkin kalau warga di sini sudah tahu akan ada acara sedekah bumi, tapi untuk masyarakat dari luar khususnya anak muda, itu gak tahu informasinya. Jadi kita buat akun Instagram dan bekerja samalah dengan media partner dari @enjoybogor, untuk membantu meng-push promosi.” Ucapnya.Meski jumlah pemuda yang terlibat terus bertambah, tantangan belum berakhir, “masih banyak yang masih malu-malu, terus juga masih ada yang belum paham terkait penyelenggaraan event. Dari mindset-nya juga sih yang harus kita ubah. Teman-teman mohon maaf sekali, karena kan kalau misalnya di kampung itu dari segi pendidikannya belum terlalu tinggi gitu, ya. Jadi memang kita harus memberikan pengertian yang sangat-sangat dalam terkait penyelenggaraan event ini. Karena untuk Sedekah Bumi ini bukan hajat Saung Eling, tapi hajat kampung. Ya, kami sebagai pengelola ataupun sebagai panitia inti hanya penggagas sebetulnya, tapi ini event ini milik bersama. Tapi mungkin ya itu, antara kesadarannya dari masing-masing orang kan berbeda ya.” Jelas Riri.Dengan adanya tantangan tersebut, Riri berharap, anak-anak muda Lembur Sawah semakin menyadari bahwa mereka memiliki warisan budaya yang berharga untuk dijaga. Menurutnya, Kota Bogor tidak memiliki banyak perayaan budaya yang masih hidup dan melibatkan masyarakat secara langsung seperti Sedekah Bumi.Karena itulah, tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur tersebut perlu terus dipertahankan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. “Sok, kita yang memiliki budaya itu, kenapa kita gak terus mempertahankannya kan? Karena kan itu warisan dari leluhur kita di sini.” Jelas Riri, ia juga berharap agar generasi muda tidak hanya mengenal Sedekah Bumi sebagai sebuah acara tahunan, tetapi juga ikut terlibat dalam proses pelaksanaannya.Dengan keterlibatan itu, mereka dapat memahami makna di balik tradisi sekaligus menjadi penerus yang akan menjaga keberlangsungannya di masa depan. Sebab, warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena dikenang, melainkan karena ada generasi yang bersedia merawat dan melanjutkannya.Narasumber 2: Wati (36)Harapan besar terhadap generasi muda juga datang dari Wati (36), salah satu tokoh masyarakat Lembur Sawah. Di tengah kesibukan mempersiapkan acara, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu penentu keberlangsungan tradisi Sedekah Bumi di masa depan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak muda mulai mengambil peran dalam berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat. Menurutnya, pada penyelenggaraan Sedekah Bumi tahun sebelumnya, partisipasi pemuda terlihat cukup tinggi dan ikut terlibat. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi ikut membantu berbagai kebutuhan acara, mulai dari persiapan acara, hingga membantu panitia selama acara berlangsung.Keterlibatan pemuda Lembur Sawah dalam mengangkat DongdangMenurut Wati, keterlibatan tersebut menjadi pertanda baik bahwa masih ada kepedulian generasi muda terhadap budaya yang diwariskan leluhur. Melalui keterlibatan langsung, anak-anak muda tidak hanya mengetahui bahwa Sedekah Bumi adalah tradisi tahunan, tetapi juga memahami proses dan nilai yang terkandung di dalamnya. “Kalau misalkan mereka bisa ikut serta, mereka jadi tahu bagaimana cara menyiapkannya seperti ini dan bagaimana menjalankannya. Kalau misalkan suatu hari udah gak ada orang tua, yang muda bisa sebagai penggantinya, harapannya seperti itu.” Ungkapnya.Namun, Wati mengakui bahwa keterlibatan pemuda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding tahun lalu. Banyak anak muda yang kini sudah bekerja di luar daerah. “Sebenarnya sih biasanya terlibat. Untuk tahun kemarin kita senang banget ya, anak-anaknya udah mau terlibat. Cuma kalau untuk tahun sekarang, anak-anaknya banyak yang kerja keluar. Terus untuk tahun ini acara Sedekah Bumi bukan di weekend, jadi halangannya seperti itu.” Ujarnya.Kondisi tersebut membuat jumlah pemuda yang aktif membantu tidak sebanyak sebelumnya. Menurut Wati, hal itu bukan berarti mereka tidak peduli terhadap tradisi. Sebagian masih berusaha hadir. Bagi dirinya, yang terpenting adalah bagaimana generasi muda tetap memiliki rasa terhadap budaya di kampungnya. Sebab tanpa adanya regenerasi, tradisi yang telah dijaga dikhawatirkan akan kehilangan penerusnya. Sedekah Bumi tetap menjadi ruang pertemuan antar generasi. Ruang di mana orang tua dapat mewariskan nilai-nilai budaya, sementara generasi muda belajar memahami identitas kampung yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.Di tengah derasnya arus modernisasi, Sedekah Bumi di Lembur Sawah menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat. Kehadiran generasi muda tidak hanya membawa energi baru, tetapi juga menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan zaman sekarang. Keterlibatan generasi muda dalam penyelenggaraan Sedekah Bumi menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus berhadapan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan.Di tangan para pemuda, Sedekah Bumi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan kembali dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang. Melalui media sosial, festival kreatif, hingga konsep ramah lingkungan menjadi cara baru untuk memperkenalkan budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Sementara itu, para sesepuh dan tokoh masyarakat tetap menjadi penjaga makna agar tradisi tidak kehilangan ruhnya. Di Lembur Sawah, Sedekah Bumi bukan hanya tentang syukur atas hasil panen. Tradisi ini telah menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, dan ruang pewarisan nilai antar generasi.Karena pada akhirnya, menjaga tradisi Sedekah Bumi bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi tetap menjaga identitas, merawat kebersamaan, dan memastikan bahwa jejak para leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.