Menyusuri Sejarah Masa Lalu: Mengapa Peradaban Kabayan Mengakar di Sumber Air Mata Kuno?

Situs Kabayan
Gemericik air beradu lembut dengan kesunyian lereng bukit di Desa Lembur Sawah. Di tempat ini, waktu seolah berjalan melambat, menyisakan ruang bagi tradisi yang sudah berjalan lama untuk tetap bernapas di tengah derasnya modernitas. Dari balik rimbunnya pepohonan yang ada, mengalir mata air yang dipercaya warga setempat telah menghidupi tanah ini tidak hanya selama puluhan tahun melainkan ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.
Perjalan menyusuri Desa Lembur Sawah bukan sekadar tentang menikmati alam yang asri, melainkan sebuah perjalanan ekologis. Di sini, setiap situs batu tidak berdiri sendiri. Ada pola mengapa situs adat di Desa Lembur Sawah dibangun berdampingan erat dengan sumber mata air kuno. Kesadaran masyarakat lokal menempatkan air sebagai fondasi utama kehidupan, memunculkan sebuah makna untuk menjaga lingkungan tetap lestari walaupun sudah melintasi berbagai zaman.
Menjelajahi kawasan situs Kabayan hingga wilayah perbukitan sekitarnya membawa kita pada pemahaman baru mengenai tata ruang leluhur. Situs-situs di Desa
Lembur Sawah seperti Singa Manggala, Embah Jangkung, Darma Kusuma, hingga Kabayan tersebar di desa ini, di mana dibawah atau disamping setiap bangunan situs tersebut, selalu mengalir mata air kuno yang jernih.
Situs Kabayan misalnya, berdiri megah di hamparan tanah yang luas, sementara tepat di bawah kaki strukturnya, sebuah air mata mengalir tanpa henti. Pola berulang ini juga ditemukan pada situs Embah Jangkung dan Darma Kusuma. Kedekatan fisik antara pusat spiritual (situs) dan pusat kehidupan (mata air) ini memastikan bahwa ruang-ruang sakral leluhur sekaligus berfungsi sebagai bagian kehidupan masyarakat Desa Lembur Sawah. Penggunaan sumber mata air ini dimanfaatkan masyarakat Desa Lembur Sawah untuk pertanian dan juga perdagangan.
Hubungan timbal balik ini membuat sumber air di desa ini seolah kebal terhadap iklim apapun, bahkan saat kemarau panjang melanda berminggu-minggu, airnya tidak penah surut atau mengering.
Tatang (78), menjelaskan walaupun dilanda kemarau, sumber mata air di Desa Lembur Sawah tidak akan surut, air yang ada di sana malah bertambah besar.
“Sumber mata air dari dulu memang sudah ada, mengalir di sekitar situs-situs, air itu dari kemarau tujuh bulan ngga bakal surut, malah nambah besar” ujar Abah Tatang.

Sumber Mata Air yang Mengalir
Abah Tatang juga menambahkan bahwa pemilihan untuk membangun situs-situs di dekat mata air memang sudah turun-temurun seperti itu.
“Dari dulu orang tua bilangnya begini, ‘ini jangan dilepas, ini jangan ditinggal, turun-temurun ini tapaknya orang tua dari dulu’. Jadi sampai kapan pun, amanah ini akan terus dijaga”, tambah Abah Tatang.
Sementara itu, menurut Wati (38), menjelaskan bahwa mata air di Desa Lembur Sawah ini terbagi menjadi dua, yaitu mata air kahuripan dan mata air kahirupan.
Mata air kahuripan dialirkan dari pegunungan bukit tertinggi khusus untuk mengairi persawahan, sebagai sungai utama juga bagian dari ritual adat pun digunakan keadaan darurat yang sangat mendesak. Mata air kahuripan ini sifatnya sangat sakral. Lalu ada pula mata air kahirupan. Mata air kahirupan digunakan untuk menopang kehidupan sehat
hari masyarakat Desa Lembur Sawah secara umum. Dapat digunakan secara bebas untuk kebutuhan dapur, memasak, mandi, mencuci, dan konsumsi harian keluarga.
Jadi, menempatan antara situs-situs dengan mata air kuno memang sudah ada sejak dahulu kala, para leluhur meminta generasi-generasi yang meneruskan adat-istiadat itu untuk terus melanjutkan apa yang sudah menjadi tradisi.