menu
Logo Lembur Sawah

Menyusuri Sejarah Masa Lalu: Mengapa Peradaban Kabayan Mengakar di Sumber Air Mata Kuno?

calendar_today 26 Agustus 2026
person Diva Selvina dan Kaisa Khansawafa M.
Menyusuri Sejarah Masa Lalu: Mengapa Peradaban Kabayan Mengakar di  Sumber Air Mata Kuno?

Jk5dkJvEcbzcPTFbraBOVGx9lUynEliDLiveeL3L.png

Situs Kabayan

Gemericik air beradu lembut dengan kesunyian lereng bukit di Desa Lembur  Sawah. Di tempat ini, waktu seolah berjalan melambat, menyisakan ruang bagi tradisi  yang sudah berjalan lama untuk tetap bernapas di tengah derasnya modernitas. Dari balik  rimbunnya pepohonan yang ada, mengalir mata air yang dipercaya warga setempat telah  menghidupi tanah ini tidak hanya selama puluhan tahun melainkan ratusan bahkan ribuan  tahun lamanya.

Perjalan menyusuri Desa Lembur Sawah bukan sekadar tentang menikmati alam  yang asri, melainkan sebuah perjalanan ekologis. Di sini, setiap situs batu tidak berdiri  sendiri. Ada pola mengapa situs adat di Desa Lembur Sawah dibangun berdampingan erat  dengan sumber mata air kuno. Kesadaran masyarakat lokal menempatkan air sebagai  fondasi utama kehidupan, memunculkan sebuah makna untuk menjaga lingkungan tetap  lestari walaupun sudah melintasi berbagai zaman.

Menjelajahi kawasan situs Kabayan hingga wilayah perbukitan sekitarnya  membawa kita pada pemahaman baru mengenai tata ruang leluhur. Situs-situs di Desa

Lembur Sawah seperti Singa Manggala, Embah Jangkung, Darma Kusuma, hingga  Kabayan tersebar di desa ini, di mana dibawah atau disamping setiap bangunan situs  tersebut, selalu mengalir mata air kuno yang jernih.

Situs Kabayan misalnya, berdiri megah di hamparan tanah yang luas, sementara  tepat di bawah kaki strukturnya, sebuah air mata mengalir tanpa henti. Pola berulang ini  juga ditemukan pada situs Embah Jangkung dan Darma Kusuma. Kedekatan fisik antara  pusat spiritual (situs) dan pusat kehidupan (mata air) ini memastikan bahwa ruang-ruang  sakral leluhur sekaligus berfungsi sebagai bagian kehidupan masyarakat Desa Lembur  Sawah. Penggunaan sumber mata air ini dimanfaatkan masyarakat Desa Lembur Sawah  untuk pertanian dan juga perdagangan.

Hubungan timbal balik ini membuat sumber air di desa ini seolah kebal terhadap  iklim apapun, bahkan saat kemarau panjang melanda berminggu-minggu, airnya tidak  penah surut atau mengering.

Tatang (78), menjelaskan walaupun dilanda kemarau, sumber mata air di Desa  Lembur Sawah tidak akan surut, air yang ada di sana malah bertambah besar.

“Sumber mata air dari dulu memang sudah ada, mengalir di sekitar situs-situs, air  itu dari kemarau tujuh bulan ngga bakal surut, malah nambah besar” ujar Abah Tatang.

efZQIzq48iG0hLRwPpi23AhWZNEza4DKGMB9viJa.png

Sumber Mata Air yang Mengalir

Abah Tatang juga menambahkan bahwa pemilihan untuk membangun situs-situs di dekat mata air memang sudah turun-temurun seperti itu.

“Dari dulu orang tua bilangnya begini, ‘ini jangan dilepas, ini jangan ditinggal,  turun-temurun ini tapaknya orang tua dari dulu’. Jadi sampai kapan pun, amanah ini akan  terus dijaga”, tambah Abah Tatang.

Sementara itu, menurut Wati (38), menjelaskan bahwa mata air di Desa Lembur  Sawah ini terbagi menjadi dua, yaitu mata air kahuripan dan mata air kahirupan.

Mata air kahuripan dialirkan dari pegunungan bukit tertinggi khusus untuk mengairi  persawahan, sebagai sungai utama juga bagian dari ritual adat pun digunakan keadaan  darurat yang sangat mendesak. Mata air kahuripan ini sifatnya sangat sakral. Lalu ada  pula mata air kahirupan. Mata air kahirupan digunakan untuk menopang kehidupan sehat

hari masyarakat Desa Lembur Sawah secara umum. Dapat digunakan secara bebas untuk  kebutuhan dapur, memasak, mandi, mencuci, dan konsumsi harian keluarga.

Jadi, menempatan antara situs-situs dengan mata air kuno memang sudah ada sejak  dahulu kala, para leluhur meminta generasi-generasi yang meneruskan adat-istiadat itu  untuk terus melanjutkan apa yang sudah menjadi tradisi.