menu
Logo Lembur Sawah

Sedekah Bumi, Ruang Generasi Muda Melestarikan Budaya Tari di Lembur Sawah

calendar_today 26 Agustus 2026
person Nadiya Nur Anggraini dan Muhammad
Sedekah Bumi, Ruang Generasi Muda Melestarikan Budaya Tari di Lembur Sawah

Bogor – Suasana pagi saat menuju Desa Lembur Sawah terasa sejuk dan segar, aroma bunga serta tanaman di pagi hari mengapung di udara. Di sepanjang jalan yang hanya cukup untuk satu mobil, berderet pepohonan diselingi rumah-rumah warga, serta perkebunan yang ditanami pohon pisang dan singkong.

Jalan yang cenderung kecil dan sedikit berkelok ini merupakan jalan utama yang biasa dilalui  masyarakat. Akan sedikit sulit jika menempuh perjalanan menggunakan mobil. Untuk  gambaran umum, jika perjalanan ditempuh dari Mal Botani Square maka akan membutuhkan  waktu setengah jam untuk sampai di Saung Eling, Lembur Sawah, titik yang kini dapat dilacak di Google Maps. Di sanalah tangan anak-anak desa menjaga tradisi mereka agar tidak hilang  digerus modernisasi.

AAsZaiK1EY6BETrNl3z1nWWskUi7tbJWGZ5yBq0p.png

Tarian Sawen Jagat yang ditampilkan saat perayaan Sedekah Bumi (16/6) (sumber: Dok. Panitia). 


Penulis kebetulan tiba pada tanggal 15 Juni 2026, satu hari sebelum acara Sedekah Bumi.  Merupakan sebuah keberuntungan bagi penulis karena pada malam harinya, sekitar pukul  20.00 WIB warga sekitar akan berkumpul di depan Saung Eling untuk memulai prosesi ritual  penyambutan malam Tahun Baru Islam di Situs Kabayan. Warga yang hadir berbaris rapi.  Sebagian membawa tampah berisi buah hasil panen dan berbagai hidangan lain untuk  keperluan ritual. Pakaian yang dikenakan pun ditentukan, para perempuan mengenakan baju  kebaya, sedangkan warga laki-laki mengenakan pakaian adat serba hitam yang disebut pangsi  dan dipadukan dengan iket Sunda di kepala mereka.

Barisan depan diisi oleh orang-orang yang memegang obor sebagai penerang jalan. Obor-obor  tersebut akan ditanam di beberapa titik sepanjang jalan menuju Situs Kabayan. Disusul oleh  sekelompok pria paruh baya pemain alat musik tradisional seperti rebab, kecapi, dan terompet  sebagai pengiring rombongan menuju Situs Kabayan. Lalu di belakang mereka berjalan  beriringan warga serta para tamu yang datang untuk menghadiri prosesi malam itu.

Barang-barang yang telah dibawa kemudian disusun sedemikian rupa tepat di samping batu  yang paling besar. Warga yang hadir duduk di belakang dan dengan khidmat mendengarkan  doa yang dipanjatkan oleh tetua secara bergantian dengan menggunakan bahasa Sunda halus.

Setelah doa selesai, acara dilanjutkan dengan tarian tradisional oleh seorang seniman tari  tradisional bernama Putri Anisa Hendrik—yang akrab dipanggil Putri Cau—sebagai salah satu  bentuk ekspresi rasa syukur yang tidak dapat diungkapkan lewat kata-kata. Setiap orang yang  hadir mengikuti rangkaian prosesi menjadi seperti terhipnotis melihat keluwesan jemari serta keanggunan yang tercipta dari permainan selendang sang penari yang diiringi suara hewan  malam serta musik kecapi yang dimainkan secara halus dengan tempo yang lambat,  menciptakan suasana syahdu.

YFV2ULs3pg4uFzxi5A8ceUIwHZXAb5ZwRK5hGW8Z.png
Putri Cau membawakan tarian pada prosesi ritual (15/6) (sumber: Dok. Panitia)

Tarian pada malam itu adalah penampilan pembuka yang dibawakan oleh Putri Cau dalam  rangkaian acara perayaan Tahun Baru Islam. Sebab, saat acara Sedekah Bumi yang  dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Juni esok hari, Putri Cau kembali tampil di tengah  masyarakat serta tamu-tamu yang menghadiri acara dengan membawakan sebuah tarian bernama Sawen Jagat yang diambil dari konsep kepercayaan masyarakat setempat tentang sawen, sebuah rangkaian tanaman yang dipercaya dapat menolak bala dan mendatangkan hal hal yang baik.

Siang itu, Putri Cau tampil bersama beberapa pemuda. Penari laki-laki bertelanjang dada, sementara perempuan mengenakan kebaya putih dengan hiasan berwarna emas. Beberapa  sawen diselipkan di rambut dan pakaian mereka. Berbeda dengan tarian saat prosesi ritual, tari  Sawen Jagat memberikan kesan ketegasan nan anggun lewat gerakannya yang rancak dan  luwes.

“Sawen Jagat itu, aku terinspirasi dari bentuk sawen yang digantung di ambang pintu. Nah,  sawen itu kan istilahnya untuk menolak bala dan mendatangkan hal-hal baik,” ucap Putri Cau  ketika melakukan wawancara singkat (15/6).

“Nah, Sawen Jagat ini adalah bentuk penangkal roh-roh jahat dan untuk mengambil atau  menyerap energi positif hingga rezeki baik. Kata Jagat itu berarti semesta. Jadi, Sawen Jagat  adalah bentuk rasa syukur sekaligus perlindungan kita terhadap alam semesta,” sambungnya.

8hEUw5DAlbnczR63UnSA718PzjgDJy4GRkcuPoMf.png

Putri Cau saat menampilkan tari Sawen Jagat (16/6) (sumber: Dok. Panitia)

Putri Cau dipercaya oleh pihak pengelola wisata Saung Eling sekaligus ketua pelaksana acara  Sedekah Bumi untuk menjadi director pertunjukan. Ia juga bekerja sama dengan Gema Dika  Company yang menaungi pemusik dari Tulang Bajing dengan Madun atau akrab dipanggil  Kang Madun sebagai komposer musiknya. Rangkaian acara Sedekah Bumi pun diisi dengan  pertunjukan tari generasi muda yang akan tampil baik dari Sanggar Tari Saung Eling sendiri  maupun dari luar daerah.

Menurut penuturan Putri Cau, Sanggar Tari Saung Eling berdiri setelah dirinya menyelesaikan  riset di Lembur Sawah untuk keperluan ujian kelulusan S-2 Penciptaan Seni. Sanggar Tari Saung Eling kemudian menampung anak-anak yang tertarik untuk belajar seni. Ketertarikan  anak-anak ini tumbuh seiring dengan keberadaan Putri Cau di desa tersebut. Putri Cau  kemudian mendukung semangat tersebut dengan melibatkan teman-temannya yang ia panggil  dengan nama Endah dan Silah untuk melatih langsung anak-anak di Lembur Sawah.

“Alhamdulillah itu pada akhirnya dampak (positif) ya. Ketika ujian Cau yang S-2 kemarin  hadir, itulah yang membuat anak-anak semangat untuk ‘kak, aku mau latihan lagi, aku mau  latihan lagi’ gitu,” ujar Putri Cau (15/6).

Untuk menyambut respon tersebut, Saung Eling kemudian menciptakan sanggar seni dengan  tujuan menampung anak-anak yang tertarik untuk belajar tari. Anak-anak tersebut termasuk  Suci Aulia Ramadani dan Siti Nur Firli Maharani yang merupakan penari cilik dari usia 9 tahun  hingga kini mereka berusia 11 tahun.


D4w6UW9zpXNAGiYMrDsAGVMp3dvitpEehqTjbeQS.png

Tarian tradisional Rahyang Mandalajati yang dibawakan oleh murid Sanggar 

Tari Saung Eling (16/6) (sumber: Dok. Pribadi)

“Kita nari Rahyang Mandalajati. Dilatih sama Kak Endah sama Kak Silah setiap hari Kamis sore,” ujar Suci (15/6).

Suci mengaku, pada awalnya ia hanya ikut-ikutan teman-temannya. Namun seiring berjalannya  waktu, dirinya menemukan keseruan dalam belajar tari. Meski menghadapi kesulitan dalam  menghafalkan dan mengikuti gerakan, ia terus berlatih. Mereka pun mengungkapkan bahwa  untuk belajar menari tidak ada syarat khusus, siapa saja yang tertarik dapat belajar bersama.

“Ada banyak yang ikutan. 13 orang. SD nya 10 orang, yang SMP nya 3 orang. Yang cowoknya  juga ada. Tapi tariannya lain, dari Kalimantan gitu, tapi lupa namanya,” sambung Suci

Dari sudut pandang orang tua, melihat anak-anak memiliki ketertarikan pada hal baik  merupakan sesuatu yang disyukuri dan didukung penuh. Salah satunya adalah Uli Sominar (34), ibu dari Suci yang mengatakan bahwa dirinya bangga melihat anaknya tampil dengan  percaya diri. Sebab, dirinya sadar proses sang anak dalam belajar tari adalah sebuah proses  yang tidak mudah.

Oleh karena itu, meskipun dirinya senang melihat produktivitas sang anak, ibu dua anak itu  tidak ingin memaksakan anaknya untuk terus mendalami tari. Ia mendukung penuh apapun  keputusan sang anak.

“Ya, kalo untuk kebaikan mah didukung. Alhamdulillah temen-temennya juga kompak di sini mah, makanya pada bareng-bareng belajar nari. Tapi saya mah ga maksain kalo si Suci pengen udahan. Kasian kalo dipaksa mah. Kan dia yang belajar, jadi suka-suka dia wae,” ungkap Sominar sambil tertawa pelan (16/6). Penulis ikut tertawa pelan mendengar kalimat beliau, “Kan dia yang belajar, jadi suka-suka dia wae.” Kalimat itu seolah ditujukan juga untuk masa depan tari tradisional dari Lembur Sawah: akan tetap diteruskan selama masih ada tangan tangan yang melestarikannya.

Meski begitu, Sominar sebagai generasi pendahulu tentunya berharap jumlah anak-anak muda yang tertarik untuk belajar tari di kemudian hari dapat bertambah lebih banyak. Dengan adanya perayaan Sedekah Bumi serta keterlibatan masyarakat setempat dan pihak-pihak yang memiliki andil besar dalam usaha menghidupkan kembali tradisi ini sangat membantu dalam melestarikan budaya leluhur yang beberapa tahun silam sempat terhenti termasuk tari.